JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) resmi mengukir sejarah baru dalam industri hulu migas tanah air. Anak usaha Pertamina ini resmi memulai implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) melalui agenda PHE OSES injeksi polimer Lapangan Rama lepas pantai (offshore), Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES), Rabu (8/7/2026).
Langkah inovatif ini diresmikan melalui seremoni injeksi perdana di RDTX Square, Jakarta, yang dihadiri langsung oleh Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, serta jajaran direksi PHE dan PT Elnusa.
“Injeksi perdana polimer yang dilakukan PHE OSES di Lapangan Rama ini merupakan inovasi CEOR offshore pertama di Indonesia. Momen ini menandai tonggak penting dalam pengoptimalan produksi minyak dari lapangan lepas pantai yang telah memasuki fase mature (tua). Kami berharap metode ini berdampak signifikan pada peningkatan lifting minyak nasional,” tegas Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto.
Secara teknis, metode polymer flooding ini bekerja dengan cara menyuntikkan larutan kimia polimer khusus ke dalam lapisan reservoir bumi. Larutan ini berfungsi meningkatkan efisiensi penyapuan (sweep efficiency), sehingga butiran minyak mentah yang sebelumnya mengendap dan sulit diekstrak dapat terdorong keluar menuju sumur produksi secara optimal.
Proyek berskala makro ini telah melewati uji klinis komprehensif, mulai dari studi subsurface, analisis laboratorium hulu, hingga manajemen risiko keselamatan kerja lepas pantai.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa lapangan migas tua bukanlah aset yang habis masa pakainya, melainkan ruang yang membutuhkan sentuhan teknologi baru.
”Hari ini, lewat teknologi CEOR, kita sedang memberikan ‘terapi’ baru bagi reservoir kita untuk memperpanjang usia produktifnya. Ketahanan energi nasional tidak hanya dibangun dengan mencari cadangan baru di area hijau, tetapi juga dengan memaksimalkan aset yang sudah ada melalui inovasi,” ungkap Simon.
Manajemen PHE OSES memproyeksikan bahwa kurva manfaat penuh dari proyek inovasi hulu ini dapat direalisasikan secara bertahap hingga tahun 2030.
Keberhasilan di Lapangan Rama ini ditargetkan menjadi pilot project sekaligus validasi kinerja teknologi sebagai landasan pengembangan CEOR secara full field (skala penuh) di masa mendatang.
Jika proyek pengurasan minyak tahap lanjut ini berjalan mulus, Pertamina Group siap mereplikasi teknologi chemical EOR serupa di berbagai blok migas lepas pantai rawan defisit lainnya guna memperkokoh kedaulatan energi Indonesia.






